Rabu, 24 Februari 2016

Risiko by Clara Moningka

Sudah lama saya tidak aktif menulis karena studi... namun keinginan untuk menulis muncul. Sebenarnya saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah tulisan saya dibaca orang lain atau tidak... dibaca syukur..dan siapa tahu bermanfaat..di sisi lain tidak dibacapun... tidak apa.. Tulisan memotivasi saya supaya tidak malas. Tetapi bayangkan saja..kemalasan saya menulis di blog ini sudah hampir setahun!

Dalam setahun ini banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Memutuskan untuk melanjutkan studi dan vakum bekerja adalah suatu keputusan yang besar. Terkadang ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri mengapa saya begitu berani memutuskan untuk hengkang dari tempat saya bekerja.... saya sampai geleng-geleng kepala sendiri... hahahah...."tidak puas" dengan pekerjaan saya...? tidak juga sebenarnya...tetapi entah kenapa jadi megitu menjemukan.  Ketika orang merasa jemu dalam hidupnya, jelas ada sesuatu yang hilang... ada sesuatu yang dirasa tidak memenuhi keinginan, tidak ada "passion"; gairah....  saat perasaan seperti itu datang, ada baiknya menelaah kembali sebenarnya apa yang terjadi. Para ahli psikologi kerap mennjelaskan dengan teori keadilan, dimana kita akan membandingkan input dan output kita dengan input dan output orang lain; tentu saja dalam ruang lingkup atau pekerjaan yang setara.  Ahli lain menjelaskan dengan flow, dimana kehidupan ataupun pekerjaan ada baiknya dilakukan dengan mengalir; sesuai panggilan, dan bila hal tersebut tidak ada yang muncul adalah rasa jemu. Bagaimana menghadapi rasa jemu.... perasaan tidak puas?

Hal yang saya lakukan lumayan ekstrim, keluar dan kemudian mengejar apa yang menjadi passion saya... tidak peduli apapun yang terjadi. Hal tersebut memang membawa konsekwensi sendiri, namun sejujurnya ada rasa lega dan bahagia. Jelas, pertimbangan matang perlu dilakukan tidak sekedar modal nekat. Namun hidup hanya sekali..so.. wort to try... Ada baiknya pertimbangan tersebut (kalau anda mengalami seperti yang saya rasakan) objektif...bukan sekedar muak dengan rekan di kantor atau merasa tidak fit in saja dengan organisasi..karena pada dasarnya anda akan menjumpai seribu organisasi yang menjengkelkan, atasan yang menyebalkan, rekan kerja yang meresahkan.... dan kalaupun anda mendapat tempat yang oke..berarti pencarian anda sudah usai... dan anda mampu beradaptasi di lingkungan itu. Objektivitas untuk mengambil risiko sangat dibutuhkan.... emosi membawa kita ke level subjektif, dan melihat hanya dari 1 perspektif saja.

Mengambil risiko untuk menghindari kejemuan dan membuat hidup lebih bahagia tidak hanya terjadi di lapangan pekerjaan. Kita dapat mengalami dalam percintaan, studi, dan lain sebagainya... Ada berbagai pilihan, ada berbagai situasi tidak menyenangkan, namun kapan anda siap menghadapi risiko dan memilih untuk menjalani yang terbaik untuk anda adalah terserah kepada diri kita. Kita bisa bertahan... dan siapa tahu bertahan merupakan yang terbaik... tapi ada kalanya risiko yang kita ambil juga tidak membuat kita menyesal...

so... berani atau tidak..bukan berarti kita pengecut kalau ternyata tidak mau mengambil risiko.. yang penting kita enjoy menghadapi tantangan lagi di depan... no regret...  so have a great journey in life!