Selasa, 21 Juni 2016

Bahagia itu (tidak) sederhana

Kata-kata bahagia itu sederhana kerap kita dengar bahkan kita ucapkan, tetapi kenyataannya ketika dihadapkan pada kehidupan, kok jadi agak berbada...   Ingatkah di tahun 1980-90an.. saya menikmati makan roti yang dijual dengan dipikul atau di sepeda yang ada gerobak besarnya... rasanya bahagia memamkan roti hangat yang besar atau roti keju (aspal) yang nikmat... Holland bakery memang sudah ada namun tidak mudah kita temui seperti saat ini, kebahagiaan ketika memakan roti hangat (kalau membeli di malam hari atau pagi-pagi subuh) dengan kulit roti yang coklat..tidak dapat dikatakan..saat itu, itulah roti yang paling nikmat...   atau saat kita mendapatkan ikan dari saluran air bening dan begitu gembira ketika ikannya banyak dan cukup berwarna (tidak hanya hitam gelap...)..

Mengapa kebahagiaan seperti itu sulit dirasakan saat ini... harusnya orang akan lebih bahagia dengan segala perangkat canggih yang memudahkan manusia dan berbagai hiburan yang mencengangkan, mulai dari tontonan yang semakin moderen, atraksi seni yang semakin beragam, sampai konsep taman hiburan yang moderen.... tapi mengapa kebahagiaan menjadi tidak sesederhana itu....

Term bahagia memang subjektif dan tidak bisa kebahagiaan si A misalnya menjadi tolak ukur kebahagiaan si B; namun sifat manusia yang seringkali membandingkan membuat si A menjadi tolak ukur si B. Natural, alami, untuk membandingkan dan tidak ada salahnya membandingkan diri dengan tujuan memotivasi... supaya saya hidup lebih bahagia, lebih hebat, dan lebih lagi.... lebih sampai kapan dan dari siapa... that's the question...  kenapa bahagia itu menjadi tidak sederhana karena ulah kita juga...   konsep bahagia itu sederhana adalah konsep yang pintar, benar adanya... ingat pengalaman makan roti waktu di jaman itu, atau lihat bagaimana gembiranya anak-anak kota yang pertama kali memandikan kerbau pada acara field trip (ongkosnya tidak sederhana memang), atau anak-anak bermain kelereng atau petak lari di kampung-kampung.... senyuman tulus, tawa yang renyah, bagaimana asiknya mencari singkong atau ubi...  adalah hal yang sederhana yang membahagiakan... Konsep sederhana ini kemudian yang sulit dicari di masa moderen ini, ketika semua orang sudah lelah karena terimbas rutinitas, menghadapi berbagai tantangan di jalan, di pekerjaan, di sekolah, bahagia menjadi sulit ditemukan pada hal yang sederhana...  (atau bisa juga kesederhanaan itu yang menjadi sulit untuk ditemukan saat ini.... bisa jadi..).  Ah sudahlah.... malas untuk berteori atau menjelaskannya dengan teori psikologi yang saya pelajari...

Kemarin setelah keliling kampung naik sepeda (sepeda moderen dan dengan dudukan yang nyaman = karena saya akan merasa sakit dan tidak bahagia... hihihihi), saya menemukan kembali tukang roti kampung yang rotinya masih hangat........ rasanya.... yah biasa saja... tidak lebih enak dari roti-roti bakery atau cafe ternama... tapi kok bahagia ketika memakannya....  nostalgia saat membeli roti, bagaimana bercengkrama dengan ibu dan bapak saya ketika memakannya, gambaran ketika saya memilih berbagai roti di gerobak..sambil menghirup aromanya... itulah yang membuat saya bahagia... nostalgia... kebahagiaan... truly bahagia itu sederhana.... lakukan hal yang tidak pernah anda bayangkan akan lakukan seusia anda (mengejar2 tukang roti misalnya, atau sekedar menyesap teh lokal dan wangi daun teh, melati seakan membuat anda teringat teh buatan nenek, atau teh yang anda minum di Jogja..whatever...   just find out..