Duh judulnya romantis sekali yah... intinya... karena baru teringat jasa-jasa orang yang ternyata banyak menopang disaat butuh banget... duh ceritana ketika disertasi semakin membuat sakit kepala dan juga banyak problem lainnya... tidak menyangka ada yang memberikan tepukan hangat di pundak dan mengucapkan tidak akan ada apa-apa... such comforting words... Tadinya ada kesal dan kecewa dan juga merasa terjebak...(yang ini jd rahasia pribadi saja)...namun ketika kesulitan datang... ternyata memang ada orang yang akan menopangmu... (diperlukan kesadaran saja bahwa orang tersebut ada...jangan terlena dengan penderitaan saking menghayatinya).... sekedar kata semangat... dan mengatakan bahwa tulisan bisa dilanjutkan nanti, bersenang-senanglah....dll... bagai disiram air segar di gurun sahara.... toh akhirnya kita bisa menangis bahagia....
so whenever you're weary... don't worry.... pasti ada seseorang (kecuali kita jahat sekali yah dan tidak punya teman...hahahahah-- kalau itu yah nggak jamin juga...)
Clara Moningka's
Rabu, 19 Oktober 2016
Setiap perjalanan punya cerita
Setiap perjalanan punya cerita...
Menulis blog ini sebenarnya sebagai hiburan pribadi... tapi lama kelamaan jadi terabaikan... Malas datang, berbagai alasan muncul dan jadi tidak produkif lagi. Baru tersadar kalau harus mulai sedikit saja memotivasi... banyak waktu yang telah saya sia-siakan hanya untuk memikirkan perjalanan masa lampau... entah kenapa yah... pengaruh film romantis masa kini yang kadang picisan...namun kalau kata orang lagi baper... maka akhirnya manusia yang cukup logis pun akan terkena dampaknya.....
So malam ini mulai melangkah kembali, menguatkan diri dan meyakinkan diri bahwa setiap perjalanan pasti ada cerita... cerita cinta, suka, duka... tapi pada akhirnya toh berlalu juga,,, kenangan yang tertinggal yah tinggal kenangan.... dan mulai perjalanan baru untuk menghasilkan cerita baru. Benar juga... semakin banyak perjalanan yang kita lakukan dalam hidup membuat kita (harusnya) lebih matang dan lebih yakin akan hidup kita... mudah diutarakan... agak sulit yah dilakukan....
Jadi teringat ketika suatu hari diajak seorang teman ke tempat yang tidak pernah menjadi destinasi wisata saya..terpikirpun tidak, Boracay di Pilipina.... kalau Singapore, Jepang, mungkin cukup familiar... kalau ini... duh memikirkan saja kayaknya tidak... yang terlintas udara panas dan pasir yang lengket di kaki, air laut yang membuat tidak nyaman (buat saya loh). Namun akhirnya karena sekalian yah sudahlah...dijalani dengan agak terpaksa karena tiket sudah dipesan (dan ternyata lumayan mahal yah...). Sesampainya di dermaga pulau tersebut saya malah terkesima... ow... bagusnya..lautnya bening... belum sampai ke tempat tujuan ribet benar perjalanannya.... haduh...tapi dijalani juga...intinya...ternyata banyak cerita yang bisa saya bagikan kepada keluarga atau teman dan ternyata menyenangkan dan tak terlupakan....(walau harus panas2an berjam2...).... cerita yang menyenangkan... dan cerita yang tidak menyenangkan (sakit flu berat, ternyata budget membengkak, dll).... setelah dilewati perjalanan yang tadinya saya pikir tidak menyenangkan itu kok jd menyenangkan yah.... (hahaahahah) dan kemudian malah mau membuat langkah baru lagi ke tempat lain....
itu sih contoh yang mudah karena liburan...beda dengan kehidupan nyata... perjalanannya sepertinya lebih berliku dan tidak dapat ditebak... surprisingly...kadang membuat kita terperangkap dalam perjalanan dan kenangan tersebut... (itu yang kata orang belum bisa move on)... dan tidak sedikit orang yang terjebak... tapi benar... semua perjalanan ada ceritanya... dan bisa jadi good story..so kalau tidak melangkah lagi... (terpaku pada keadaan lampau, orang yang lampau, atau orang yang entah ada diangan2 mana dan tidak terjangkau....) pikirkan untuk melangkah dan membuat cerita yang lebih indah..... jangan cerita yang itu-itu saja... nggak update deh dan tidak mengikuti perkembangan jaman... hari ini ada janji kepada diri sendiri untuk melangkah lagi (padahal tidak sampai segitunya sih terjebak tapi mengesalkan saja....). Yah... sampai bertemu di perjalanan berikutnya...
Menulis blog ini sebenarnya sebagai hiburan pribadi... tapi lama kelamaan jadi terabaikan... Malas datang, berbagai alasan muncul dan jadi tidak produkif lagi. Baru tersadar kalau harus mulai sedikit saja memotivasi... banyak waktu yang telah saya sia-siakan hanya untuk memikirkan perjalanan masa lampau... entah kenapa yah... pengaruh film romantis masa kini yang kadang picisan...namun kalau kata orang lagi baper... maka akhirnya manusia yang cukup logis pun akan terkena dampaknya.....
So malam ini mulai melangkah kembali, menguatkan diri dan meyakinkan diri bahwa setiap perjalanan pasti ada cerita... cerita cinta, suka, duka... tapi pada akhirnya toh berlalu juga,,, kenangan yang tertinggal yah tinggal kenangan.... dan mulai perjalanan baru untuk menghasilkan cerita baru. Benar juga... semakin banyak perjalanan yang kita lakukan dalam hidup membuat kita (harusnya) lebih matang dan lebih yakin akan hidup kita... mudah diutarakan... agak sulit yah dilakukan....
Jadi teringat ketika suatu hari diajak seorang teman ke tempat yang tidak pernah menjadi destinasi wisata saya..terpikirpun tidak, Boracay di Pilipina.... kalau Singapore, Jepang, mungkin cukup familiar... kalau ini... duh memikirkan saja kayaknya tidak... yang terlintas udara panas dan pasir yang lengket di kaki, air laut yang membuat tidak nyaman (buat saya loh). Namun akhirnya karena sekalian yah sudahlah...dijalani dengan agak terpaksa karena tiket sudah dipesan (dan ternyata lumayan mahal yah...). Sesampainya di dermaga pulau tersebut saya malah terkesima... ow... bagusnya..lautnya bening... belum sampai ke tempat tujuan ribet benar perjalanannya.... haduh...tapi dijalani juga...intinya...ternyata banyak cerita yang bisa saya bagikan kepada keluarga atau teman dan ternyata menyenangkan dan tak terlupakan....(walau harus panas2an berjam2...).... cerita yang menyenangkan... dan cerita yang tidak menyenangkan (sakit flu berat, ternyata budget membengkak, dll).... setelah dilewati perjalanan yang tadinya saya pikir tidak menyenangkan itu kok jd menyenangkan yah.... (hahaahahah) dan kemudian malah mau membuat langkah baru lagi ke tempat lain....
itu sih contoh yang mudah karena liburan...beda dengan kehidupan nyata... perjalanannya sepertinya lebih berliku dan tidak dapat ditebak... surprisingly...kadang membuat kita terperangkap dalam perjalanan dan kenangan tersebut... (itu yang kata orang belum bisa move on)... dan tidak sedikit orang yang terjebak... tapi benar... semua perjalanan ada ceritanya... dan bisa jadi good story..so kalau tidak melangkah lagi... (terpaku pada keadaan lampau, orang yang lampau, atau orang yang entah ada diangan2 mana dan tidak terjangkau....) pikirkan untuk melangkah dan membuat cerita yang lebih indah..... jangan cerita yang itu-itu saja... nggak update deh dan tidak mengikuti perkembangan jaman... hari ini ada janji kepada diri sendiri untuk melangkah lagi (padahal tidak sampai segitunya sih terjebak tapi mengesalkan saja....). Yah... sampai bertemu di perjalanan berikutnya...
Selasa, 21 Juni 2016
Bahagia itu (tidak) sederhana
Kata-kata bahagia itu sederhana kerap kita dengar bahkan kita ucapkan, tetapi kenyataannya ketika dihadapkan pada kehidupan, kok jadi agak berbada... Ingatkah di tahun 1980-90an.. saya menikmati makan roti yang dijual dengan dipikul atau di sepeda yang ada gerobak besarnya... rasanya bahagia memamkan roti hangat yang besar atau roti keju (aspal) yang nikmat... Holland bakery memang sudah ada namun tidak mudah kita temui seperti saat ini, kebahagiaan ketika memakan roti hangat (kalau membeli di malam hari atau pagi-pagi subuh) dengan kulit roti yang coklat..tidak dapat dikatakan..saat itu, itulah roti yang paling nikmat... atau saat kita mendapatkan ikan dari saluran air bening dan begitu gembira ketika ikannya banyak dan cukup berwarna (tidak hanya hitam gelap...)..
Mengapa kebahagiaan seperti itu sulit dirasakan saat ini... harusnya orang akan lebih bahagia dengan segala perangkat canggih yang memudahkan manusia dan berbagai hiburan yang mencengangkan, mulai dari tontonan yang semakin moderen, atraksi seni yang semakin beragam, sampai konsep taman hiburan yang moderen.... tapi mengapa kebahagiaan menjadi tidak sesederhana itu....
Term bahagia memang subjektif dan tidak bisa kebahagiaan si A misalnya menjadi tolak ukur kebahagiaan si B; namun sifat manusia yang seringkali membandingkan membuat si A menjadi tolak ukur si B. Natural, alami, untuk membandingkan dan tidak ada salahnya membandingkan diri dengan tujuan memotivasi... supaya saya hidup lebih bahagia, lebih hebat, dan lebih lagi.... lebih sampai kapan dan dari siapa... that's the question... kenapa bahagia itu menjadi tidak sederhana karena ulah kita juga... konsep bahagia itu sederhana adalah konsep yang pintar, benar adanya... ingat pengalaman makan roti waktu di jaman itu, atau lihat bagaimana gembiranya anak-anak kota yang pertama kali memandikan kerbau pada acara field trip (ongkosnya tidak sederhana memang), atau anak-anak bermain kelereng atau petak lari di kampung-kampung.... senyuman tulus, tawa yang renyah, bagaimana asiknya mencari singkong atau ubi... adalah hal yang sederhana yang membahagiakan... Konsep sederhana ini kemudian yang sulit dicari di masa moderen ini, ketika semua orang sudah lelah karena terimbas rutinitas, menghadapi berbagai tantangan di jalan, di pekerjaan, di sekolah, bahagia menjadi sulit ditemukan pada hal yang sederhana... (atau bisa juga kesederhanaan itu yang menjadi sulit untuk ditemukan saat ini.... bisa jadi..). Ah sudahlah.... malas untuk berteori atau menjelaskannya dengan teori psikologi yang saya pelajari...
Kemarin setelah keliling kampung naik sepeda (sepeda moderen dan dengan dudukan yang nyaman = karena saya akan merasa sakit dan tidak bahagia... hihihihi), saya menemukan kembali tukang roti kampung yang rotinya masih hangat........ rasanya.... yah biasa saja... tidak lebih enak dari roti-roti bakery atau cafe ternama... tapi kok bahagia ketika memakannya.... nostalgia saat membeli roti, bagaimana bercengkrama dengan ibu dan bapak saya ketika memakannya, gambaran ketika saya memilih berbagai roti di gerobak..sambil menghirup aromanya... itulah yang membuat saya bahagia... nostalgia... kebahagiaan... truly bahagia itu sederhana.... lakukan hal yang tidak pernah anda bayangkan akan lakukan seusia anda (mengejar2 tukang roti misalnya, atau sekedar menyesap teh lokal dan wangi daun teh, melati seakan membuat anda teringat teh buatan nenek, atau teh yang anda minum di Jogja..whatever... just find out..
Mengapa kebahagiaan seperti itu sulit dirasakan saat ini... harusnya orang akan lebih bahagia dengan segala perangkat canggih yang memudahkan manusia dan berbagai hiburan yang mencengangkan, mulai dari tontonan yang semakin moderen, atraksi seni yang semakin beragam, sampai konsep taman hiburan yang moderen.... tapi mengapa kebahagiaan menjadi tidak sesederhana itu....
Term bahagia memang subjektif dan tidak bisa kebahagiaan si A misalnya menjadi tolak ukur kebahagiaan si B; namun sifat manusia yang seringkali membandingkan membuat si A menjadi tolak ukur si B. Natural, alami, untuk membandingkan dan tidak ada salahnya membandingkan diri dengan tujuan memotivasi... supaya saya hidup lebih bahagia, lebih hebat, dan lebih lagi.... lebih sampai kapan dan dari siapa... that's the question... kenapa bahagia itu menjadi tidak sederhana karena ulah kita juga... konsep bahagia itu sederhana adalah konsep yang pintar, benar adanya... ingat pengalaman makan roti waktu di jaman itu, atau lihat bagaimana gembiranya anak-anak kota yang pertama kali memandikan kerbau pada acara field trip (ongkosnya tidak sederhana memang), atau anak-anak bermain kelereng atau petak lari di kampung-kampung.... senyuman tulus, tawa yang renyah, bagaimana asiknya mencari singkong atau ubi... adalah hal yang sederhana yang membahagiakan... Konsep sederhana ini kemudian yang sulit dicari di masa moderen ini, ketika semua orang sudah lelah karena terimbas rutinitas, menghadapi berbagai tantangan di jalan, di pekerjaan, di sekolah, bahagia menjadi sulit ditemukan pada hal yang sederhana... (atau bisa juga kesederhanaan itu yang menjadi sulit untuk ditemukan saat ini.... bisa jadi..). Ah sudahlah.... malas untuk berteori atau menjelaskannya dengan teori psikologi yang saya pelajari...
Kemarin setelah keliling kampung naik sepeda (sepeda moderen dan dengan dudukan yang nyaman = karena saya akan merasa sakit dan tidak bahagia... hihihihi), saya menemukan kembali tukang roti kampung yang rotinya masih hangat........ rasanya.... yah biasa saja... tidak lebih enak dari roti-roti bakery atau cafe ternama... tapi kok bahagia ketika memakannya.... nostalgia saat membeli roti, bagaimana bercengkrama dengan ibu dan bapak saya ketika memakannya, gambaran ketika saya memilih berbagai roti di gerobak..sambil menghirup aromanya... itulah yang membuat saya bahagia... nostalgia... kebahagiaan... truly bahagia itu sederhana.... lakukan hal yang tidak pernah anda bayangkan akan lakukan seusia anda (mengejar2 tukang roti misalnya, atau sekedar menyesap teh lokal dan wangi daun teh, melati seakan membuat anda teringat teh buatan nenek, atau teh yang anda minum di Jogja..whatever... just find out..
Rabu, 24 Februari 2016
Risiko by Clara Moningka
Sudah lama saya tidak aktif menulis karena studi... namun keinginan untuk menulis muncul. Sebenarnya saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah tulisan saya dibaca orang lain atau tidak... dibaca syukur..dan siapa tahu bermanfaat..di sisi lain tidak dibacapun... tidak apa.. Tulisan memotivasi saya supaya tidak malas. Tetapi bayangkan saja..kemalasan saya menulis di blog ini sudah hampir setahun!
Dalam setahun ini banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Memutuskan untuk melanjutkan studi dan vakum bekerja adalah suatu keputusan yang besar. Terkadang ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri mengapa saya begitu berani memutuskan untuk hengkang dari tempat saya bekerja.... saya sampai geleng-geleng kepala sendiri... hahahah...."tidak puas" dengan pekerjaan saya...? tidak juga sebenarnya...tetapi entah kenapa jadi megitu menjemukan. Ketika orang merasa jemu dalam hidupnya, jelas ada sesuatu yang hilang... ada sesuatu yang dirasa tidak memenuhi keinginan, tidak ada "passion"; gairah.... saat perasaan seperti itu datang, ada baiknya menelaah kembali sebenarnya apa yang terjadi. Para ahli psikologi kerap mennjelaskan dengan teori keadilan, dimana kita akan membandingkan input dan output kita dengan input dan output orang lain; tentu saja dalam ruang lingkup atau pekerjaan yang setara. Ahli lain menjelaskan dengan flow, dimana kehidupan ataupun pekerjaan ada baiknya dilakukan dengan mengalir; sesuai panggilan, dan bila hal tersebut tidak ada yang muncul adalah rasa jemu. Bagaimana menghadapi rasa jemu.... perasaan tidak puas?
Hal yang saya lakukan lumayan ekstrim, keluar dan kemudian mengejar apa yang menjadi passion saya... tidak peduli apapun yang terjadi. Hal tersebut memang membawa konsekwensi sendiri, namun sejujurnya ada rasa lega dan bahagia. Jelas, pertimbangan matang perlu dilakukan tidak sekedar modal nekat. Namun hidup hanya sekali..so.. wort to try... Ada baiknya pertimbangan tersebut (kalau anda mengalami seperti yang saya rasakan) objektif...bukan sekedar muak dengan rekan di kantor atau merasa tidak fit in saja dengan organisasi..karena pada dasarnya anda akan menjumpai seribu organisasi yang menjengkelkan, atasan yang menyebalkan, rekan kerja yang meresahkan.... dan kalaupun anda mendapat tempat yang oke..berarti pencarian anda sudah usai... dan anda mampu beradaptasi di lingkungan itu. Objektivitas untuk mengambil risiko sangat dibutuhkan.... emosi membawa kita ke level subjektif, dan melihat hanya dari 1 perspektif saja.
Mengambil risiko untuk menghindari kejemuan dan membuat hidup lebih bahagia tidak hanya terjadi di lapangan pekerjaan. Kita dapat mengalami dalam percintaan, studi, dan lain sebagainya... Ada berbagai pilihan, ada berbagai situasi tidak menyenangkan, namun kapan anda siap menghadapi risiko dan memilih untuk menjalani yang terbaik untuk anda adalah terserah kepada diri kita. Kita bisa bertahan... dan siapa tahu bertahan merupakan yang terbaik... tapi ada kalanya risiko yang kita ambil juga tidak membuat kita menyesal...
so... berani atau tidak..bukan berarti kita pengecut kalau ternyata tidak mau mengambil risiko.. yang penting kita enjoy menghadapi tantangan lagi di depan... no regret... so have a great journey in life!
Dalam setahun ini banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Memutuskan untuk melanjutkan studi dan vakum bekerja adalah suatu keputusan yang besar. Terkadang ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri mengapa saya begitu berani memutuskan untuk hengkang dari tempat saya bekerja.... saya sampai geleng-geleng kepala sendiri... hahahah...."tidak puas" dengan pekerjaan saya...? tidak juga sebenarnya...tetapi entah kenapa jadi megitu menjemukan. Ketika orang merasa jemu dalam hidupnya, jelas ada sesuatu yang hilang... ada sesuatu yang dirasa tidak memenuhi keinginan, tidak ada "passion"; gairah.... saat perasaan seperti itu datang, ada baiknya menelaah kembali sebenarnya apa yang terjadi. Para ahli psikologi kerap mennjelaskan dengan teori keadilan, dimana kita akan membandingkan input dan output kita dengan input dan output orang lain; tentu saja dalam ruang lingkup atau pekerjaan yang setara. Ahli lain menjelaskan dengan flow, dimana kehidupan ataupun pekerjaan ada baiknya dilakukan dengan mengalir; sesuai panggilan, dan bila hal tersebut tidak ada yang muncul adalah rasa jemu. Bagaimana menghadapi rasa jemu.... perasaan tidak puas?
Hal yang saya lakukan lumayan ekstrim, keluar dan kemudian mengejar apa yang menjadi passion saya... tidak peduli apapun yang terjadi. Hal tersebut memang membawa konsekwensi sendiri, namun sejujurnya ada rasa lega dan bahagia. Jelas, pertimbangan matang perlu dilakukan tidak sekedar modal nekat. Namun hidup hanya sekali..so.. wort to try... Ada baiknya pertimbangan tersebut (kalau anda mengalami seperti yang saya rasakan) objektif...bukan sekedar muak dengan rekan di kantor atau merasa tidak fit in saja dengan organisasi..karena pada dasarnya anda akan menjumpai seribu organisasi yang menjengkelkan, atasan yang menyebalkan, rekan kerja yang meresahkan.... dan kalaupun anda mendapat tempat yang oke..berarti pencarian anda sudah usai... dan anda mampu beradaptasi di lingkungan itu. Objektivitas untuk mengambil risiko sangat dibutuhkan.... emosi membawa kita ke level subjektif, dan melihat hanya dari 1 perspektif saja.
Mengambil risiko untuk menghindari kejemuan dan membuat hidup lebih bahagia tidak hanya terjadi di lapangan pekerjaan. Kita dapat mengalami dalam percintaan, studi, dan lain sebagainya... Ada berbagai pilihan, ada berbagai situasi tidak menyenangkan, namun kapan anda siap menghadapi risiko dan memilih untuk menjalani yang terbaik untuk anda adalah terserah kepada diri kita. Kita bisa bertahan... dan siapa tahu bertahan merupakan yang terbaik... tapi ada kalanya risiko yang kita ambil juga tidak membuat kita menyesal...
so... berani atau tidak..bukan berarti kita pengecut kalau ternyata tidak mau mengambil risiko.. yang penting kita enjoy menghadapi tantangan lagi di depan... no regret... so have a great journey in life!
Kamis, 19 Februari 2015
Reuni: Is it fun or make you down?!!! by Clara Moningka
Reuni adalah sesuatu yang kerap ditunggu lho... Bertemu teman; sahabat lama terkadang membuat orang menjadi happy; atau menurut mereka jadi happy, tetapi benarkah demikian. Saya ingat reuni terakhir saya bertemu dengan teman malah membuat kami sempat ribut karena salah paham, kadang karena hal kecil, karena ejekan kecil atau hal yang sepele. Nyatanya, saya sendiri jadi super malas pergi lagi reuni karena menguras energi (tidak hanya energi, tapi kantong juga..). Belum lama ini saya juga baru meninggalkan group reuni di sosial media lantaran lumayan mengganggu. Semua orang berbicara tidak ada hentinya, pagi, siang, sore, malam, hujan, panas, mau hari kerja ataupun hari libur... entah walapun saya tidak terlalu memperhatikan namun akhirnya berpikir untuk out sajalah...
Saya tidak pernah mengatakan reuni menyebalkan, hanya saja apakah alasan kita bertemu memang untuk melepas rasa kangen kita, atau kita hanya sekedar mau tahu keadaan teman-teman kita.. bagaimana kehidupan mereka saat ini, apakah mereka sukses, menikah dengan siapa,dll. Alasan pertemuan pertama pada dasarnya selalu positif karena ingin melepas kangen, in the end... terjadi social comparison; perbandingan sosial. Kok si A lebih oke, lebih kaya, kok dia berhasil, dsb. Baguslah kalau kita tetap positif dan memang tidak terjadi apa-apa. It's fun... tetapi terkadang ada kisah reuni yang berakhir stres bahkan depresi.
Seorang teman menghubungi saya sekedar untuk menanyakan bagaimana menghadapi teman kami yang sedang stres karena merasa tidak berguna dan gagal. Teman-teman saya jadi bingung, mengapa setelah reuni (hahahaha-kesimpulan tidak ilmiah yah), bukannya makin happy dia malah depresi. Diawali dengan makan bersama kawan dan bercerita mengenai pekerjaan dan sebagainya, ternyata yang satu ini merasa gagal dibandingkan teman-temannya. Mau diskusi buka usaha, malah disarankan jangan karena tidak ada untungnya. Lama kelamaan setelah pertemuan demi pertemuan, beliau jadi down and down... Sampai sempat menanyakan cara bunuh diri yang paling efektif saat ini. Aduh... kok jadi gini... Pada dasarnya maksud reuni baik, tapi ketika ada individu yang kasusnya seperti ini, jadi membandingkan (yang memang sifat dasar manusia), maka reuni yang indah penuh canda tawa bagi banyak orang bisa jadi tragedi untuk orang yang lainnya. Social comparison perlu dilakukan oleh individu. Dengan membandingkan diri dengan orang lain kita kerap dapat melakukan evaluasi terhadap perilaku kita dan membuat kita lebih baik, namun ketika evaluasi tersebut digunakan bukan untuk memotivasi, namun untuk membuktikan kegagalan diri bisa repot jadinya.
Setiap individu memiliki ideal self; yaitu diri dia yang ideal; gambaran mengenai dirinya yang ideal, dan kerap diperoleh dari membandingkan dirinya dengan lingkungan dan sosialisasi sepanjang hidupnya, namun juga ada real self yaitu keadaan dirinya saat ini.. ketika jarak antara ideal self dengan real self terlalu jauh.. alias kenyataan jauh dari harapan, maka individu kerap terpuruk dan tidak realistis. Berpikir mengapa hal itu terjadi pada dirinya.
Ketika kita sedang terpuruk pada umumnya kita memang lupa bahwa setiap orang di seluruh dunia pasti punya masalah; namun tidak semuanya akan nampak;kasat mata. Ada yang pandai menyembunyikan, atau malah tidak ditunjukkan. Ada yang nampak kaya, namun banyak hutang atau tidak mendapatkan cinta. Ada yang sudah punya semuanya, namun tetap masih kurang saja. That's the point.. tidak semua perbandingan sosial membuat kita merasa nyaman; tergantung pribadi orang yang bersangkutan.
Reuni bisa jadi ajang bersenang-senang... tapi jangan ajang membandingkan.... karena kita pada dasarnya memiliki rejeki sendiri, kesusahan sendiri, kehidupan sendiri. Bukan karena membandingkan dengan orang lain kehidupan kita akan berubah. Kita adalah tuan untuk kehidupan kita; kita yang menyusun rencana masa depan kita (walau ada tangan Yang Kuasa berperan), namun kita yang bisa menghayati segala yang terjadi pada diri kita....
Keep positive dan jangan takut reuni yah...
Saya tidak pernah mengatakan reuni menyebalkan, hanya saja apakah alasan kita bertemu memang untuk melepas rasa kangen kita, atau kita hanya sekedar mau tahu keadaan teman-teman kita.. bagaimana kehidupan mereka saat ini, apakah mereka sukses, menikah dengan siapa,dll. Alasan pertemuan pertama pada dasarnya selalu positif karena ingin melepas kangen, in the end... terjadi social comparison; perbandingan sosial. Kok si A lebih oke, lebih kaya, kok dia berhasil, dsb. Baguslah kalau kita tetap positif dan memang tidak terjadi apa-apa. It's fun... tetapi terkadang ada kisah reuni yang berakhir stres bahkan depresi.
Seorang teman menghubungi saya sekedar untuk menanyakan bagaimana menghadapi teman kami yang sedang stres karena merasa tidak berguna dan gagal. Teman-teman saya jadi bingung, mengapa setelah reuni (hahahaha-kesimpulan tidak ilmiah yah), bukannya makin happy dia malah depresi. Diawali dengan makan bersama kawan dan bercerita mengenai pekerjaan dan sebagainya, ternyata yang satu ini merasa gagal dibandingkan teman-temannya. Mau diskusi buka usaha, malah disarankan jangan karena tidak ada untungnya. Lama kelamaan setelah pertemuan demi pertemuan, beliau jadi down and down... Sampai sempat menanyakan cara bunuh diri yang paling efektif saat ini. Aduh... kok jadi gini... Pada dasarnya maksud reuni baik, tapi ketika ada individu yang kasusnya seperti ini, jadi membandingkan (yang memang sifat dasar manusia), maka reuni yang indah penuh canda tawa bagi banyak orang bisa jadi tragedi untuk orang yang lainnya. Social comparison perlu dilakukan oleh individu. Dengan membandingkan diri dengan orang lain kita kerap dapat melakukan evaluasi terhadap perilaku kita dan membuat kita lebih baik, namun ketika evaluasi tersebut digunakan bukan untuk memotivasi, namun untuk membuktikan kegagalan diri bisa repot jadinya.
Setiap individu memiliki ideal self; yaitu diri dia yang ideal; gambaran mengenai dirinya yang ideal, dan kerap diperoleh dari membandingkan dirinya dengan lingkungan dan sosialisasi sepanjang hidupnya, namun juga ada real self yaitu keadaan dirinya saat ini.. ketika jarak antara ideal self dengan real self terlalu jauh.. alias kenyataan jauh dari harapan, maka individu kerap terpuruk dan tidak realistis. Berpikir mengapa hal itu terjadi pada dirinya.
Ketika kita sedang terpuruk pada umumnya kita memang lupa bahwa setiap orang di seluruh dunia pasti punya masalah; namun tidak semuanya akan nampak;kasat mata. Ada yang pandai menyembunyikan, atau malah tidak ditunjukkan. Ada yang nampak kaya, namun banyak hutang atau tidak mendapatkan cinta. Ada yang sudah punya semuanya, namun tetap masih kurang saja. That's the point.. tidak semua perbandingan sosial membuat kita merasa nyaman; tergantung pribadi orang yang bersangkutan.
Reuni bisa jadi ajang bersenang-senang... tapi jangan ajang membandingkan.... karena kita pada dasarnya memiliki rejeki sendiri, kesusahan sendiri, kehidupan sendiri. Bukan karena membandingkan dengan orang lain kehidupan kita akan berubah. Kita adalah tuan untuk kehidupan kita; kita yang menyusun rencana masa depan kita (walau ada tangan Yang Kuasa berperan), namun kita yang bisa menghayati segala yang terjadi pada diri kita....
Keep positive dan jangan takut reuni yah...
Senin, 09 Februari 2015
Selayang pandang Psikologi Transpersonal by Clara Moningka
Saya mengenal Psikologi Transpersonal dari guru Yoga saya... Sebelum punya suami dan anak, saya rutin yoga 3 kali seminggu di wilayah Jakarta Pusat. Yoga mengajarkan saya pentingnya melakukan meditasi dan pernafasan. Harga yang dibayar cukup mahal untuk sekali course tetapi sangat berguna, dan bisa diterapkan terus menerus.
Saat Yoga, saya belajar untuk melakukan refleksi diri; hal yang sulit dilakukan belakangan ini karena banyaknya kesibukan dan kekesalan disana-sini... namun ketika kita meluangkan waktu untuk menarik diri sejenak dari rutinitas kita, melakukan refleksi terhadap apa yang kita perbuat selama beberapa saat, kita akan mendapatkan energi untuk memulai sesuatu dengan lebih menyenangkan. Saya mengetahui Psikologi Transpersonal lebih jauh dari Mbak Bo; Prof. Dr. Kwartarini dari Universitas Gajah Mada. Mengikuti workshop dibawah bimbingan beliau adalah satu momen reflektif untuk mengenal diri kita, segala pengalaman baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan... dan kemudian berusaha menyelesaikan unfinished business dan mengisi kembali dengan tekad baru dan energi positif.
Di Psikologi Transpersonal, kita tidak dengan mudah menyelesaikan masalah atau apa yang mengganggu kita, namun dengan teknik meditatif, kita merefleksikan apa yang kita rasakan dan berhadapan dengan kejadian-kejadian dalam hidup kita; merasakan kedekatan dengan Yang Maha Besar. Banyak teman-teman Psikolog yang setiap harinya memberikan pertolongan pada orang lain, memberikan konseling, memberikan terapi, namun juga terkadang lupa bahwa ada masalah yang menghimpit dan kemudian di tekan; repress. Seperti gunung es, kita tidak pernah tahu kapan maslah tersebut akan membesar dan membahayakan diri kita sendiri. Beruntung orang yang terbuka dan cukup bisa mengemukakan apa yang dirasakan, tapi kalau ternyata tertutup dan lingkungan sosialnya sangat normatif... bisa repot juga yah... Budaya malu di kultur Timur, seperti di Indonesia cukup besar.. orang akan malu berterus terang atau jujur apa adanya dengan keadaan tidak mengenakka. Kerap kita sering bersandiwara mengenai keadaan kita, bahkan untuk seorang psikolog sekalipun. Bagus kalau kita sadar dan berusaha meminimalisir sandiwara, yang perlu mendapatkan perhatian malah yang tidak menyadari dan merasa hal tersebut baik-baik saja.
Teknik reflektif dan meditatif membawa kita pada kesadaran yang sebenarnya mengenai apa yang kita alami. Kita diajak untuk bersentuhan dengan peristiwa tersebut, bukan lari dan menghindar; menganggap baik-baik saja (karena sebenarnya tidak baik-baik saja). Kita dibawa untuk menyelesaikan masalah mulai dari diri kita sendiri dan kemudian perlahan tampil dengan pribadi yang lebih sehat dan kuat ke luar berusaha "living well at every stage of our life".
Secara teoritik hal ini memang oke, praktiknya... lumayan susah yah... apalagi bila ada kebencian dan rasa kesal terhadap sesuatu, but worth to try... sama ketika saya belum paham yoga.. namun ketika saya praktikkan, it's beyond my imagination... learning by doing dan berusaha terbuka memahami... So.. sisakan waktu anda sedikit untuk refleksi diri bukan untuk mengingat kejadian buruk, tetapi mengubah hal tersebut menjadi sesuatu yang membuat kita belajar... belajar hidup lebih baik.. Cheers!
Saat Yoga, saya belajar untuk melakukan refleksi diri; hal yang sulit dilakukan belakangan ini karena banyaknya kesibukan dan kekesalan disana-sini... namun ketika kita meluangkan waktu untuk menarik diri sejenak dari rutinitas kita, melakukan refleksi terhadap apa yang kita perbuat selama beberapa saat, kita akan mendapatkan energi untuk memulai sesuatu dengan lebih menyenangkan. Saya mengetahui Psikologi Transpersonal lebih jauh dari Mbak Bo; Prof. Dr. Kwartarini dari Universitas Gajah Mada. Mengikuti workshop dibawah bimbingan beliau adalah satu momen reflektif untuk mengenal diri kita, segala pengalaman baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan... dan kemudian berusaha menyelesaikan unfinished business dan mengisi kembali dengan tekad baru dan energi positif.
Di Psikologi Transpersonal, kita tidak dengan mudah menyelesaikan masalah atau apa yang mengganggu kita, namun dengan teknik meditatif, kita merefleksikan apa yang kita rasakan dan berhadapan dengan kejadian-kejadian dalam hidup kita; merasakan kedekatan dengan Yang Maha Besar. Banyak teman-teman Psikolog yang setiap harinya memberikan pertolongan pada orang lain, memberikan konseling, memberikan terapi, namun juga terkadang lupa bahwa ada masalah yang menghimpit dan kemudian di tekan; repress. Seperti gunung es, kita tidak pernah tahu kapan maslah tersebut akan membesar dan membahayakan diri kita sendiri. Beruntung orang yang terbuka dan cukup bisa mengemukakan apa yang dirasakan, tapi kalau ternyata tertutup dan lingkungan sosialnya sangat normatif... bisa repot juga yah... Budaya malu di kultur Timur, seperti di Indonesia cukup besar.. orang akan malu berterus terang atau jujur apa adanya dengan keadaan tidak mengenakka. Kerap kita sering bersandiwara mengenai keadaan kita, bahkan untuk seorang psikolog sekalipun. Bagus kalau kita sadar dan berusaha meminimalisir sandiwara, yang perlu mendapatkan perhatian malah yang tidak menyadari dan merasa hal tersebut baik-baik saja.
Teknik reflektif dan meditatif membawa kita pada kesadaran yang sebenarnya mengenai apa yang kita alami. Kita diajak untuk bersentuhan dengan peristiwa tersebut, bukan lari dan menghindar; menganggap baik-baik saja (karena sebenarnya tidak baik-baik saja). Kita dibawa untuk menyelesaikan masalah mulai dari diri kita sendiri dan kemudian perlahan tampil dengan pribadi yang lebih sehat dan kuat ke luar berusaha "living well at every stage of our life".
Secara teoritik hal ini memang oke, praktiknya... lumayan susah yah... apalagi bila ada kebencian dan rasa kesal terhadap sesuatu, but worth to try... sama ketika saya belum paham yoga.. namun ketika saya praktikkan, it's beyond my imagination... learning by doing dan berusaha terbuka memahami... So.. sisakan waktu anda sedikit untuk refleksi diri bukan untuk mengingat kejadian buruk, tetapi mengubah hal tersebut menjadi sesuatu yang membuat kita belajar... belajar hidup lebih baik.. Cheers!
Langganan:
Komentar (Atom)