Senin, 09 Februari 2015

Selayang pandang Psikologi Transpersonal by Clara Moningka

Saya mengenal Psikologi Transpersonal dari guru Yoga saya... Sebelum punya suami dan anak, saya rutin yoga 3 kali seminggu di wilayah Jakarta Pusat. Yoga mengajarkan saya pentingnya melakukan meditasi dan pernafasan. Harga yang dibayar cukup mahal untuk sekali course tetapi sangat berguna, dan bisa diterapkan terus menerus.

Saat Yoga, saya belajar untuk melakukan refleksi diri; hal yang sulit dilakukan belakangan ini karena banyaknya kesibukan dan kekesalan disana-sini... namun ketika kita meluangkan waktu untuk menarik diri sejenak dari rutinitas kita, melakukan refleksi terhadap apa yang kita perbuat selama beberapa saat, kita akan mendapatkan energi untuk memulai sesuatu dengan lebih menyenangkan.  Saya mengetahui Psikologi Transpersonal lebih jauh dari Mbak Bo; Prof. Dr. Kwartarini dari Universitas Gajah Mada.  Mengikuti workshop dibawah bimbingan beliau adalah satu momen reflektif untuk mengenal diri kita, segala pengalaman baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan... dan kemudian berusaha menyelesaikan unfinished business dan mengisi kembali dengan tekad baru dan energi positif.

Di Psikologi Transpersonal, kita tidak dengan mudah menyelesaikan masalah atau apa yang mengganggu kita, namun dengan teknik meditatif, kita merefleksikan apa yang kita rasakan dan berhadapan dengan kejadian-kejadian dalam hidup kita; merasakan kedekatan dengan Yang Maha Besar. Banyak teman-teman Psikolog yang setiap harinya memberikan pertolongan pada orang lain, memberikan konseling, memberikan terapi, namun juga terkadang lupa bahwa ada masalah yang menghimpit dan kemudian di tekan; repress. Seperti gunung es, kita tidak pernah tahu kapan maslah tersebut akan membesar dan membahayakan diri kita sendiri. Beruntung orang yang terbuka dan cukup bisa mengemukakan apa yang dirasakan, tapi kalau ternyata tertutup dan lingkungan sosialnya sangat normatif... bisa repot juga yah... Budaya malu di kultur Timur, seperti di Indonesia cukup besar.. orang akan malu berterus terang atau jujur apa adanya dengan keadaan tidak mengenakka. Kerap kita sering bersandiwara mengenai keadaan kita, bahkan untuk seorang psikolog sekalipun. Bagus kalau kita sadar dan berusaha meminimalisir sandiwara, yang perlu mendapatkan perhatian malah yang tidak menyadari dan merasa hal tersebut baik-baik saja.

Teknik reflektif dan meditatif membawa kita pada kesadaran yang sebenarnya mengenai apa yang kita alami. Kita diajak untuk bersentuhan dengan peristiwa tersebut, bukan lari dan menghindar; menganggap baik-baik saja (karena sebenarnya tidak baik-baik saja). Kita dibawa untuk menyelesaikan masalah mulai dari diri kita sendiri dan kemudian perlahan tampil dengan pribadi yang lebih sehat dan kuat ke luar berusaha "living well at every stage of our life".
 
Secara teoritik hal ini memang oke, praktiknya... lumayan susah yah... apalagi bila ada kebencian dan rasa kesal terhadap sesuatu, but worth to try... sama ketika saya belum paham yoga.. namun ketika saya praktikkan, it's beyond my imagination... learning by doing dan berusaha terbuka memahami... So.. sisakan waktu anda sedikit untuk refleksi diri bukan untuk mengingat kejadian buruk, tetapi mengubah hal tersebut menjadi sesuatu yang membuat kita belajar... belajar hidup lebih baik.. Cheers!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar