Reuni adalah sesuatu yang kerap ditunggu lho... Bertemu teman; sahabat lama terkadang membuat orang menjadi happy; atau menurut mereka jadi happy, tetapi benarkah demikian. Saya ingat reuni terakhir saya bertemu dengan teman malah membuat kami sempat ribut karena salah paham, kadang karena hal kecil, karena ejekan kecil atau hal yang sepele. Nyatanya, saya sendiri jadi super malas pergi lagi reuni karena menguras energi (tidak hanya energi, tapi kantong juga..). Belum lama ini saya juga baru meninggalkan group reuni di sosial media lantaran lumayan mengganggu. Semua orang berbicara tidak ada hentinya, pagi, siang, sore, malam, hujan, panas, mau hari kerja ataupun hari libur... entah walapun saya tidak terlalu memperhatikan namun akhirnya berpikir untuk out sajalah...
Saya tidak pernah mengatakan reuni menyebalkan, hanya saja apakah alasan kita bertemu memang untuk melepas rasa kangen kita, atau kita hanya sekedar mau tahu keadaan teman-teman kita.. bagaimana kehidupan mereka saat ini, apakah mereka sukses, menikah dengan siapa,dll. Alasan pertemuan pertama pada dasarnya selalu positif karena ingin melepas kangen, in the end... terjadi social comparison; perbandingan sosial. Kok si A lebih oke, lebih kaya, kok dia berhasil, dsb. Baguslah kalau kita tetap positif dan memang tidak terjadi apa-apa. It's fun... tetapi terkadang ada kisah reuni yang berakhir stres bahkan depresi.
Seorang teman menghubungi saya sekedar untuk menanyakan bagaimana menghadapi teman kami yang sedang stres karena merasa tidak berguna dan gagal. Teman-teman saya jadi bingung, mengapa setelah reuni (hahahaha-kesimpulan tidak ilmiah yah), bukannya makin happy dia malah depresi. Diawali dengan makan bersama kawan dan bercerita mengenai pekerjaan dan sebagainya, ternyata yang satu ini merasa gagal dibandingkan teman-temannya. Mau diskusi buka usaha, malah disarankan jangan karena tidak ada untungnya. Lama kelamaan setelah pertemuan demi pertemuan, beliau jadi down and down... Sampai sempat menanyakan cara bunuh diri yang paling efektif saat ini. Aduh... kok jadi gini... Pada dasarnya maksud reuni baik, tapi ketika ada individu yang kasusnya seperti ini, jadi membandingkan (yang memang sifat dasar manusia), maka reuni yang indah penuh canda tawa bagi banyak orang bisa jadi tragedi untuk orang yang lainnya. Social comparison perlu dilakukan oleh individu. Dengan membandingkan diri dengan orang lain kita kerap dapat melakukan evaluasi terhadap perilaku kita dan membuat kita lebih baik, namun ketika evaluasi tersebut digunakan bukan untuk memotivasi, namun untuk membuktikan kegagalan diri bisa repot jadinya.
Setiap individu memiliki ideal self; yaitu diri dia yang ideal; gambaran mengenai dirinya yang ideal, dan kerap diperoleh dari membandingkan dirinya dengan lingkungan dan sosialisasi sepanjang hidupnya, namun juga ada real self yaitu keadaan dirinya saat ini.. ketika jarak antara ideal self dengan real self terlalu jauh.. alias kenyataan jauh dari harapan, maka individu kerap terpuruk dan tidak realistis. Berpikir mengapa hal itu terjadi pada dirinya.
Ketika kita sedang terpuruk pada umumnya kita memang lupa bahwa setiap orang di seluruh dunia pasti punya masalah; namun tidak semuanya akan nampak;kasat mata. Ada yang pandai menyembunyikan, atau malah tidak ditunjukkan. Ada yang nampak kaya, namun banyak hutang atau tidak mendapatkan cinta. Ada yang sudah punya semuanya, namun tetap masih kurang saja. That's the point.. tidak semua perbandingan sosial membuat kita merasa nyaman; tergantung pribadi orang yang bersangkutan.
Reuni bisa jadi ajang bersenang-senang... tapi jangan ajang membandingkan.... karena kita pada dasarnya memiliki rejeki sendiri, kesusahan sendiri, kehidupan sendiri. Bukan karena membandingkan dengan orang lain kehidupan kita akan berubah. Kita adalah tuan untuk kehidupan kita; kita yang menyusun rencana masa depan kita (walau ada tangan Yang Kuasa berperan), namun kita yang bisa menghayati segala yang terjadi pada diri kita....
Keep positive dan jangan takut reuni yah...
Kamis, 19 Februari 2015
Senin, 09 Februari 2015
Selayang pandang Psikologi Transpersonal by Clara Moningka
Saya mengenal Psikologi Transpersonal dari guru Yoga saya... Sebelum punya suami dan anak, saya rutin yoga 3 kali seminggu di wilayah Jakarta Pusat. Yoga mengajarkan saya pentingnya melakukan meditasi dan pernafasan. Harga yang dibayar cukup mahal untuk sekali course tetapi sangat berguna, dan bisa diterapkan terus menerus.
Saat Yoga, saya belajar untuk melakukan refleksi diri; hal yang sulit dilakukan belakangan ini karena banyaknya kesibukan dan kekesalan disana-sini... namun ketika kita meluangkan waktu untuk menarik diri sejenak dari rutinitas kita, melakukan refleksi terhadap apa yang kita perbuat selama beberapa saat, kita akan mendapatkan energi untuk memulai sesuatu dengan lebih menyenangkan. Saya mengetahui Psikologi Transpersonal lebih jauh dari Mbak Bo; Prof. Dr. Kwartarini dari Universitas Gajah Mada. Mengikuti workshop dibawah bimbingan beliau adalah satu momen reflektif untuk mengenal diri kita, segala pengalaman baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan... dan kemudian berusaha menyelesaikan unfinished business dan mengisi kembali dengan tekad baru dan energi positif.
Di Psikologi Transpersonal, kita tidak dengan mudah menyelesaikan masalah atau apa yang mengganggu kita, namun dengan teknik meditatif, kita merefleksikan apa yang kita rasakan dan berhadapan dengan kejadian-kejadian dalam hidup kita; merasakan kedekatan dengan Yang Maha Besar. Banyak teman-teman Psikolog yang setiap harinya memberikan pertolongan pada orang lain, memberikan konseling, memberikan terapi, namun juga terkadang lupa bahwa ada masalah yang menghimpit dan kemudian di tekan; repress. Seperti gunung es, kita tidak pernah tahu kapan maslah tersebut akan membesar dan membahayakan diri kita sendiri. Beruntung orang yang terbuka dan cukup bisa mengemukakan apa yang dirasakan, tapi kalau ternyata tertutup dan lingkungan sosialnya sangat normatif... bisa repot juga yah... Budaya malu di kultur Timur, seperti di Indonesia cukup besar.. orang akan malu berterus terang atau jujur apa adanya dengan keadaan tidak mengenakka. Kerap kita sering bersandiwara mengenai keadaan kita, bahkan untuk seorang psikolog sekalipun. Bagus kalau kita sadar dan berusaha meminimalisir sandiwara, yang perlu mendapatkan perhatian malah yang tidak menyadari dan merasa hal tersebut baik-baik saja.
Teknik reflektif dan meditatif membawa kita pada kesadaran yang sebenarnya mengenai apa yang kita alami. Kita diajak untuk bersentuhan dengan peristiwa tersebut, bukan lari dan menghindar; menganggap baik-baik saja (karena sebenarnya tidak baik-baik saja). Kita dibawa untuk menyelesaikan masalah mulai dari diri kita sendiri dan kemudian perlahan tampil dengan pribadi yang lebih sehat dan kuat ke luar berusaha "living well at every stage of our life".
Secara teoritik hal ini memang oke, praktiknya... lumayan susah yah... apalagi bila ada kebencian dan rasa kesal terhadap sesuatu, but worth to try... sama ketika saya belum paham yoga.. namun ketika saya praktikkan, it's beyond my imagination... learning by doing dan berusaha terbuka memahami... So.. sisakan waktu anda sedikit untuk refleksi diri bukan untuk mengingat kejadian buruk, tetapi mengubah hal tersebut menjadi sesuatu yang membuat kita belajar... belajar hidup lebih baik.. Cheers!
Saat Yoga, saya belajar untuk melakukan refleksi diri; hal yang sulit dilakukan belakangan ini karena banyaknya kesibukan dan kekesalan disana-sini... namun ketika kita meluangkan waktu untuk menarik diri sejenak dari rutinitas kita, melakukan refleksi terhadap apa yang kita perbuat selama beberapa saat, kita akan mendapatkan energi untuk memulai sesuatu dengan lebih menyenangkan. Saya mengetahui Psikologi Transpersonal lebih jauh dari Mbak Bo; Prof. Dr. Kwartarini dari Universitas Gajah Mada. Mengikuti workshop dibawah bimbingan beliau adalah satu momen reflektif untuk mengenal diri kita, segala pengalaman baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan... dan kemudian berusaha menyelesaikan unfinished business dan mengisi kembali dengan tekad baru dan energi positif.
Di Psikologi Transpersonal, kita tidak dengan mudah menyelesaikan masalah atau apa yang mengganggu kita, namun dengan teknik meditatif, kita merefleksikan apa yang kita rasakan dan berhadapan dengan kejadian-kejadian dalam hidup kita; merasakan kedekatan dengan Yang Maha Besar. Banyak teman-teman Psikolog yang setiap harinya memberikan pertolongan pada orang lain, memberikan konseling, memberikan terapi, namun juga terkadang lupa bahwa ada masalah yang menghimpit dan kemudian di tekan; repress. Seperti gunung es, kita tidak pernah tahu kapan maslah tersebut akan membesar dan membahayakan diri kita sendiri. Beruntung orang yang terbuka dan cukup bisa mengemukakan apa yang dirasakan, tapi kalau ternyata tertutup dan lingkungan sosialnya sangat normatif... bisa repot juga yah... Budaya malu di kultur Timur, seperti di Indonesia cukup besar.. orang akan malu berterus terang atau jujur apa adanya dengan keadaan tidak mengenakka. Kerap kita sering bersandiwara mengenai keadaan kita, bahkan untuk seorang psikolog sekalipun. Bagus kalau kita sadar dan berusaha meminimalisir sandiwara, yang perlu mendapatkan perhatian malah yang tidak menyadari dan merasa hal tersebut baik-baik saja.
Teknik reflektif dan meditatif membawa kita pada kesadaran yang sebenarnya mengenai apa yang kita alami. Kita diajak untuk bersentuhan dengan peristiwa tersebut, bukan lari dan menghindar; menganggap baik-baik saja (karena sebenarnya tidak baik-baik saja). Kita dibawa untuk menyelesaikan masalah mulai dari diri kita sendiri dan kemudian perlahan tampil dengan pribadi yang lebih sehat dan kuat ke luar berusaha "living well at every stage of our life".
Secara teoritik hal ini memang oke, praktiknya... lumayan susah yah... apalagi bila ada kebencian dan rasa kesal terhadap sesuatu, but worth to try... sama ketika saya belum paham yoga.. namun ketika saya praktikkan, it's beyond my imagination... learning by doing dan berusaha terbuka memahami... So.. sisakan waktu anda sedikit untuk refleksi diri bukan untuk mengingat kejadian buruk, tetapi mengubah hal tersebut menjadi sesuatu yang membuat kita belajar... belajar hidup lebih baik.. Cheers!
Langganan:
Komentar (Atom)